Ali Syariati
(1933 – 1977) adalah tokoh intelektual Iran yang paling berpengaruh diantara
orang-orang Iran yang tidak puas dan anti rezim Syah pada taun 1960-an dan
1970-an. Ia lahir di Mazinan, Iran Timur pada tahun 1933 M/1312 H. Pendidikan
mulanya di Masyhad. Ia duduk di sekolah menengah , ketika ayahnya yang alim,
Muhammad Taqi Syariati mendirikan Pusat Penyebaran Ajaran-Ajaran Islam.
Tahun-tahun
pembentukan kehidupannya yang dijalani bersama ayahnya meninggalkan bekas yang
kuat pada pribadinya. Selama bertahun-tahun inilah ia terbuka bagi usaha-usaha
ayahnya yang keras untuk membawa pemuda berpendidikan modern ke pangkuan Islam dengan
menjadikan Alquran sebagai sarana pokok untuk mengajarkan dan menjelaskan
kaitan antara cita-cita Islam dan lingkungan Sosial Mutakhir.
Ketika memasuki
Akademi Pendidikan Guru, ia telah diakui sebagai anggota aktif pusat organisasi
ayahnya. Disini ia sering diminta berbicara yang membuatnya berhubungan erat
dengan para mahasiswa yang kebanyakan tergolong lapisan ekonomi lemah. Ia memulai
karirnya sebagai guru sesudah menyelesaikan sekolah menengah dan akademi
pendidikan guru. Ia mengajar di Masyhad selama beberapa tahun, lalu pada tahun
1956 mengikuti program pascasarjana pada fakultas Sastra yang baru didirikannya
di Universitas Masyhad.
Kegiatan-kegiatannya
dan kuliahnya di Fakultas Sastra membuatnya sadar akan pentingnya peranan guru
akademi sebagai cendekiawan dalam masyarakat modern dalam membentuk harapan
masa depan pemuda muslim. Melihat keadaan di lembaga-lembaga pendidikan tinggi
menjadi buruk sesudah jatuhnya pemerintah Mosaddeq dalam bulan agustus 1952.
Pada tahun
1960 ia memperoleh kesempatan meneruskan studi tingkat kesarjanannya dengan
disertasi doktoral berjudul Fadail al Balkh (les Merites de Balkh, bahasa
Perancis, red) sebuah esei dan terjemahan teks Persia abad pertengahan. Ia
mempertunjukkan keorisinalan dan kreativitas berpikirnya dengan mengabaikan
nuansa-nuansa sosiologi barat resmi.
Ia kembali ke
Iran pada tahun 1964 dan segera dipenjarakan selama enam bulan karena turut
dalam kegiatan-kegiatan anti pemerintah di Perancis. Sesudah dibebaskan, ia
melamar jadi dosen di Fakultas Sastra Universitas Teheran, tapi ditolak. Ia lalu
mengajar pada berbagai sekolah menengah dan akademi Pertanian, sampai sebuah
jabatan dosen Sejarah tersedia di Universitas Masyhad pada tahun 1966.
Dalam waktu
yang singkat ia menjadi dosen yang paling popular di universitas itu dan
menjadi pembicara pada sebagian besar hari-hari peringatan keagamaan penting
yang diselenggarakan berbagai perkumpulan di universitas. Safari-safari
ceramahnya di Teheran membuahkan hasil dengan dibangunnya Husainiyyah Irsyad pada tahun 1965, suatu lembaga yang
memainkan bagian penting dalam perkembangannya sebagai pemikir muslim.
Ia menggunakan
seluruh waktunya untuk mengajar dan menyebarluaskan gagasannya tentang Islam. Ceramah-ceramahnya mempunyai
dampak politik sedemikian rupa pada masyarakat Iran sehingga rezim yang
berkuasa menahannya dalam musim panas 1973. Kegiatan-kegiatan Husainiyyah
Irsyad ditangguhkan. Walaupun Ia dibebaskan menjelang akhir 1975, ia tidak
bebas bergerak dan tetap dalam
pengasingan di Mazinan, tanah kelahirannya sendiri. Pada awal 1977 ia
diperkenankan meninggalkan Iran menuju Eropa. Pada tanggal 19 Juni 1977 dalam
usia 44 tahun ia meninggal dunia secara misterius di Inggris yang mengesankan
adanya keterlibatan SAVAK, polisi rahasia Iran. Ia dimakamkan di Damaskus, di
samping makam Zainab, Srikandi Karbala, saudara Imam Husain.
Gagasan-gagasannya
banyak dipengaruhi oleh tulisan-tulisan Iqbal. Ia mencari sintesanya dengan
kembai kepada Islam revolusioner yang dibedakannya dengan Islam mapan yang
didominasi Ulama. Walaupun demikian ia juga mengecam kaum elite sekuler atas
sikap mereka yang tidak kritis dalam meniru barat. Dan kenyataannya
gagasan-gagasan sosiologi Islamnya yang orisinal merupakan alternatif yang
menarik untuk pertumbuhan generasi muslim mendatang.
(Sumber : Tipologi :
Sebuah pendekatan untuk memahami Islam. Terbitan Grafikatama Jaya hal. 96-99.
1993) dengan perubahan