Jumat, 19 September 2014

Aloneness

,

Engkau, seorang manusia perlu merasakan kesendirian, kesusahan dan kelaparan untuk merasakan hakikat dunia ini. Pendek kata, manusia perlu menderita untuk mengerti dunia ini. Sebuah kenaifan bahwa seorang manusia minta dihormati, diakui eksistensinya untuk sebuah nama besar, Sang Raja. Sunyi, sepi, sendiri dan lapar. Itulah yang tidak engkau kehendaki, manusia.

                Setiap malam harus menanggung beban kesendirian, kelaparan dan kesunyian hanya demi sebuah mimpi; Kehormatan. Walaupun dalam perjalanannya manusia merasakan kemewahan, anggaplah itu sebagai bagian dari rencana tak terduga Tuhan. Setiap malam engkau memegangi perutmu hanya untuk sebuah cita-cita; mengenali diri sendiri. Komedi  malam yang dirasakan semua orang.

                Sebuah mimpi lantas mendatangimu dan bercerita bahwa seluruh hidupmu akan diliputi kesusahan. Sejak lahir sampai mati engkau akan merasakan kebalikan dari kebahagiaan. Hingga akhirnya engkau tidak akan menemukan siapa dirimu. Sebuah mimpi yang tidak jelas dan menyesatkan seorang pencari. Sebab seorang pencari merupakan gelas kosong yang mencari isi untuk dituangan kedalamnya.
                 
                    Lantas
                               
Cita-cita manusia itu absurd, sukses. Apa definisi dari sukses ? Entahlah. Kemarin aku melihat dua orang yang berdebat tentang kesuksesan. Yang satunya seorang materialis dan satunya seorang religius. Kulihat mereka sambil bersendekap agak sombong.

                “Ukuran sukses adalah ketika kita mendapatkan kesuksesan harta, wanita dan tahta. Sebab apa yang dikatakan kesuksesan tanpa ketiga hal itu adalah sesuatu yang keliru. Masuk surga merupakan suatu impian orang-orang bodoh yang dibutakan oleh agama penipu” Demikian si materialis berucap.

                “Dasar orang Kafir, apa yang kau katakan adalah kebodohan. Ingatlah bahwa dalam dunia ini justru ketiga hal itu adalah yang menyesatkan manusia. Dimanakah otakmu ketika engkau mengatakan hal itu ? hey, apa kau tidak mengingat darimana engkau berasal ? “ Sergah si religius dengan nada sombong.

                “Kuakui kalian berdua hebat dalam berdebat. Kalian mempunyai sumber-sumber yang jelas dan otoritatif. Namun lihatlah sepulang dari perdebatan, kalian sama saja dengan orang-orang kebanyakan, omong kosong dan tidak berguna” Sergahku. Dan perdebatan langsung berhenti.

                Perdebatan tentang ini dan itu memang penting. Namun kebanyakan mereka melakukan perdebatan yang tidak penting. Perdebatan tentang kemisikinan haruslah berakhir dengan aksi mengentaskan kemiskinan, bukan gagasan dalam otak untuk mengentaskan kemiskinan. Sebuah kehidupan diawali dengan gagasan dan diakhiri dengan kematian. Sebab kematian adalah pintu menuju kesendirian dan keabadian. Berbahagialah jiwa-jiwa yang tersenyum dalam kesendirian, sebab dalam hakekatnya, kalian telah melakukan hal untuk kehormatan dan cita-cita kalian.


(Kopma Brawijaya - Senin, 23 Rajab 1434 H/ 3 Juni 2013)

0 komentar to “Aloneness”

Posting Komentar