Engkau, seorang
manusia perlu merasakan kesendirian, kesusahan dan kelaparan untuk merasakan
hakikat dunia ini. Pendek kata, manusia perlu menderita untuk mengerti dunia
ini. Sebuah kenaifan bahwa seorang manusia minta dihormati, diakui eksistensinya
untuk sebuah nama besar, Sang Raja. Sunyi, sepi, sendiri dan lapar. Itulah yang
tidak engkau kehendaki, manusia.
Setiap
malam harus menanggung beban kesendirian, kelaparan dan kesunyian hanya demi
sebuah mimpi; Kehormatan. Walaupun dalam perjalanannya manusia merasakan
kemewahan, anggaplah itu sebagai bagian dari rencana tak terduga Tuhan. Setiap
malam engkau memegangi perutmu hanya untuk sebuah cita-cita; mengenali diri
sendiri. Komedi malam yang dirasakan
semua orang.
Sebuah
mimpi lantas mendatangimu dan bercerita bahwa seluruh hidupmu akan diliputi
kesusahan. Sejak lahir sampai mati engkau akan merasakan kebalikan dari
kebahagiaan. Hingga akhirnya engkau tidak akan menemukan siapa dirimu. Sebuah
mimpi yang tidak jelas dan menyesatkan seorang pencari. Sebab seorang pencari
merupakan gelas kosong yang mencari isi untuk dituangan kedalamnya.
Lantas
Cita-cita manusia itu absurd,
sukses. Apa definisi dari sukses ? Entahlah. Kemarin aku melihat dua orang yang
berdebat tentang kesuksesan. Yang satunya seorang materialis dan satunya
seorang religius. Kulihat mereka sambil bersendekap agak sombong.
“Ukuran
sukses adalah ketika kita mendapatkan kesuksesan harta, wanita dan tahta. Sebab
apa yang dikatakan kesuksesan tanpa ketiga hal itu adalah sesuatu yang keliru.
Masuk surga merupakan suatu impian orang-orang bodoh yang dibutakan oleh agama
penipu” Demikian si materialis berucap.
“Dasar
orang Kafir, apa yang kau katakan adalah kebodohan. Ingatlah bahwa dalam dunia
ini justru ketiga hal itu adalah yang menyesatkan manusia. Dimanakah otakmu
ketika engkau mengatakan hal itu ? hey, apa kau tidak mengingat darimana engkau
berasal ? “ Sergah si religius dengan nada sombong.
“Kuakui
kalian berdua hebat dalam berdebat. Kalian mempunyai sumber-sumber yang jelas
dan otoritatif. Namun lihatlah sepulang dari perdebatan, kalian sama saja
dengan orang-orang kebanyakan, omong kosong dan tidak berguna” Sergahku. Dan
perdebatan langsung berhenti.
Perdebatan
tentang ini dan itu memang penting. Namun kebanyakan mereka melakukan
perdebatan yang tidak penting. Perdebatan tentang kemisikinan haruslah berakhir
dengan aksi mengentaskan kemiskinan, bukan gagasan dalam otak untuk
mengentaskan kemiskinan. Sebuah kehidupan diawali dengan gagasan dan diakhiri
dengan kematian. Sebab kematian adalah pintu menuju kesendirian dan keabadian.
Berbahagialah jiwa-jiwa yang tersenyum dalam kesendirian, sebab dalam
hakekatnya, kalian telah melakukan hal untuk kehormatan dan cita-cita kalian.
(Kopma Brawijaya - Senin, 23 Rajab 1434 H/ 3 Juni 2013)
