Selasa, 09 Juni 2015

Ali Syariati : Sebuah cerita singkat

,

Ali Syariati (1933 – 1977) adalah tokoh intelektual Iran yang paling berpengaruh diantara orang-orang Iran yang tidak puas dan anti rezim Syah pada taun 1960-an dan 1970-an. Ia lahir di Mazinan, Iran Timur pada tahun 1933 M/1312 H. Pendidikan mulanya di Masyhad. Ia duduk di sekolah menengah , ketika ayahnya yang alim, Muhammad Taqi Syariati mendirikan Pusat Penyebaran Ajaran-Ajaran Islam.

Tahun-tahun pembentukan kehidupannya yang dijalani bersama ayahnya meninggalkan bekas yang kuat pada pribadinya. Selama bertahun-tahun inilah ia terbuka bagi usaha-usaha ayahnya yang keras untuk membawa pemuda berpendidikan modern ke pangkuan Islam dengan menjadikan Alquran sebagai sarana pokok untuk mengajarkan dan menjelaskan kaitan antara cita-cita Islam dan lingkungan Sosial Mutakhir.

Ketika memasuki Akademi Pendidikan Guru, ia telah diakui sebagai anggota aktif pusat organisasi ayahnya. Disini ia sering diminta berbicara yang membuatnya berhubungan erat dengan para mahasiswa yang kebanyakan tergolong lapisan ekonomi lemah. Ia memulai karirnya sebagai guru sesudah menyelesaikan sekolah menengah dan akademi pendidikan guru. Ia mengajar di Masyhad selama beberapa tahun, lalu pada tahun 1956 mengikuti program pascasarjana pada fakultas Sastra yang baru didirikannya di Universitas Masyhad.

Kegiatan-kegiatannya dan kuliahnya di Fakultas Sastra membuatnya sadar akan pentingnya peranan guru akademi sebagai cendekiawan dalam masyarakat modern dalam membentuk harapan masa depan pemuda muslim. Melihat keadaan di lembaga-lembaga pendidikan tinggi menjadi buruk sesudah jatuhnya pemerintah Mosaddeq dalam bulan agustus 1952.

Pada tahun 1960 ia memperoleh kesempatan meneruskan studi tingkat kesarjanannya dengan disertasi doktoral berjudul Fadail al Balkh (les Merites de Balkh, bahasa Perancis, red) sebuah esei dan terjemahan teks Persia abad pertengahan. Ia mempertunjukkan keorisinalan dan kreativitas berpikirnya dengan mengabaikan nuansa-nuansa sosiologi barat resmi.

Ia kembali ke Iran pada tahun 1964 dan segera dipenjarakan selama enam bulan karena turut dalam kegiatan-kegiatan anti pemerintah di Perancis. Sesudah dibebaskan, ia melamar jadi dosen di Fakultas Sastra Universitas Teheran, tapi ditolak. Ia lalu mengajar pada berbagai sekolah menengah dan akademi Pertanian, sampai sebuah jabatan dosen Sejarah tersedia di Universitas Masyhad pada tahun 1966.

Dalam waktu yang singkat ia menjadi dosen yang paling popular di universitas itu dan menjadi pembicara pada sebagian besar hari-hari peringatan keagamaan penting yang diselenggarakan berbagai perkumpulan di universitas. Safari-safari ceramahnya di Teheran membuahkan hasil dengan dibangunnya Husainiyyah Irsyad pada tahun 1965, suatu lembaga yang memainkan bagian penting dalam perkembangannya sebagai pemikir muslim.

Ia menggunakan seluruh waktunya untuk mengajar dan menyebarluaskan gagasannya  tentang Islam. Ceramah-ceramahnya mempunyai dampak politik sedemikian rupa pada masyarakat Iran sehingga rezim yang berkuasa menahannya dalam musim panas 1973. Kegiatan-kegiatan Husainiyyah Irsyad ditangguhkan. Walaupun Ia dibebaskan menjelang akhir 1975, ia tidak bebas bergerak dan tetap dalam  pengasingan di Mazinan, tanah kelahirannya sendiri. Pada awal 1977 ia diperkenankan meninggalkan Iran menuju Eropa. Pada tanggal 19 Juni 1977 dalam usia 44 tahun ia meninggal dunia secara misterius di Inggris yang mengesankan adanya keterlibatan SAVAK, polisi rahasia Iran. Ia dimakamkan di Damaskus, di samping makam Zainab, Srikandi Karbala, saudara Imam Husain.

Gagasan-gagasannya banyak dipengaruhi oleh tulisan-tulisan Iqbal. Ia mencari sintesanya dengan kembai kepada Islam revolusioner yang dibedakannya dengan Islam mapan yang didominasi Ulama. Walaupun demikian ia juga mengecam kaum elite sekuler atas sikap mereka yang tidak kritis dalam meniru barat. Dan kenyataannya gagasan-gagasan sosiologi Islamnya yang orisinal merupakan alternatif yang menarik untuk pertumbuhan generasi muslim mendatang.


(Sumber : Tipologi : Sebuah pendekatan untuk memahami Islam. Terbitan Grafikatama Jaya hal. 96-99. 1993) dengan perubahan
Read more →

Hamba yang penuh maksiat

,
Illahi,

Masihkah Engkau membuka pintu taubat-Mu untuk hamba-Mu yang selalu berbuat maksiat ini ?
Masihkah Engkau mau untuk membuka pintu maaf-Mu untuk hamba-Mu yang selalu mengingkari janji kepada-Mu
Apakah engkau sudi untuk menerima taubat yang kesekian kalinya ini ?

Illahi,

Aku telah terjatuh untuk kesekian kalinya kedalam kemaksiatan yang tak terkira sebab aku manusia biasa
Tak terhitung
Tak terperi banyakanya dalam setiap nafas, setiap kedipan mata
Begitu susahnya hamba-Mu ini untuk taat kepada perintah-Mu
Bahkan dalam sujudku kepada-Mu aku tetap bermaksiat kepada-Mu

Illahi,

Maafkanlah hamba-Mu yang pernah merasa sebagai manusia yang lebih baik daripada manusia-manusia yang lain
Yang merasa sombong di depan wajahmu yang memenuhi jagat
Yang merasa sebagai makhluk paling sempurna sebagai khalifah-Mu, padahal hamba-Mu hanyalah kumpulan tanah dan air mani yang engkau berikan nafas

Ya robbi,

Dalam lubuk hati ini selalu tersimpan keinginan untuk menempuh jalan yang lurus, jalan yang engkau ridhoi untuk sekali lagi..
Namun engkau memang terlalu sayang kepada hambamu , sehingga engkau masih memberikan kesempatan bagi hamba untuk belajar mengenal arti kehidupan yang hitam putih ini

Rabb,

terlalu banyak kerusakan dan kemaksiatan yang aku lakukan secara dzahir maupun secara bathin,
Kemunafikan dan kemungkaran telah tersebar dimuka bumi akibat hambamu yang satu ini

Ilahi robbi, masihkah engkau membuka pintu maaf dan taubatmu ?





Read more →