Senin, 06 Oktober 2014

Kita Dalam Bayangan Ketakutan

,
         Seringkali ketakutan pada diri manusia tidak bisa didefinisikan, bahkan dengan satu kata pun tidak bisa. Takut pada ular, misalnya. Bisakah kita mencari sumber ketakutan kita pada ular ? sejak kapan dogma-dogma bahwa ular itu berbahaya menghegemoni alam bawah sadar kita ? oleh karena itulah bisa disebut bahwa rasa takut itu tidak terukur, tidak berdasar.

         Atau barangkali ketakutan itu bukan pada objek nyata namun lebih kepada abstraksi-abstraksi atau khayalan, ambil contoh saja takut pada nilai jelek, atau takut diputus pacar yang udah lama banget pacaran (batuk cool mode on). Entah kenapa kita selalu membayangkan bila dapat nilai jelek dunia esok pasti kiamat kubro, bila diputus pacar seakan kita pria paling terdzalimi di dunia (karena ane bukan cewek yak), Mengapa ? sekali lagi mengapa ?

         Coba kita buka kamus psikologi, yang gak punya kamus silahkan googling deh, definisi sederhana dari ketakutan adalah suatu tanggapan emosi terhadap ancaman sebagai mekanisme pertahanan hidup.  Nah,  apakah hal yang menyebabkan takut itu ? nilai jelek, IPK jeblog, atau diputus pacar , ehm diblacklist dosen mungkin ? barangkali iya
         
         Namun apakah hal-hal yang diatas merupakan kebutuhan dasar manusia ? merupakan kebutuhan dasar mahasiswa ? Coba Jawab sendiri nih (. . . . . . . . . . . .)

Kalau jawabnya iya, baikkah sikap ketakutan berlebihan terhadap sesuatu yang bersifat abstrak, tak nyata dan merupakan konstruk pemikiran yang menyimpang, apakah ketakutan kita berdasar pada dasar-dasar yang real atau sekedar merupakan konstruk hegemoni budaya yang salah saja ? tidak pernahkah kita mencoba untuk bertanya pada emosi dasar kita, yang konon bernama ketakutan itu. 




(Wilis, 07 Oktober 2014/11 Dzulhijjah 1435 H)



Read more →